Memasuki tahun 2019 perusahaan dituntut untuk mampu menghadapi era ekonomi digital yang disebut dengan Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 merupakan revolusi teknologi yang secara fundamental akan mengubah cara hidup kita, cara kita bekerja satu sama lain dalam lingkup domestik maupun global. Otomasi dan pertukaran data terkini mencakup sistem siber, Internet of Thing (IoT), Cloud dan komputasi kognitif bukan hal baru bagi perusahaan baik dalam bidang jasa, dagang ataupun manufaktur. Dari data Badan Pusat Statistik di tahun 2017 kontribusi pasar digital terhadap Product Domestic Bruto (PDB) Indonesia mencapai 4% dengan nilai transaksi e-commerce terus meningkat dengan proyeksi 3.1%. Kemudahan yang ditawarkan untuk konsumen mau tidak mau memaksa perusahaan untuk bisa cepat beradaptasi pada perubahan siklus kerja. Kebutuhan akan layanan berbasis internet membuat perusahaan saling berlomba dalam mengalihkan sistem manual mereka ke sistem terkomputerisasi di mana sistem tersebut memiliki keuntungan antara lain mampu menciptakan efisiensi yang tinggi, mengurangi waktu dan biaya produksi, meminimalkan kesalahan kerja, dan peningkatan akurasi dan kualitas produk.

Agar menjamin keberlangsungan sistem  Industri 4.0berjalan secara optimal, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi oleh industri kebutuhan penunjang itu di antaranya adalah ketersediaan sumber daya yang melimpah, murah, dan kontinyu, serta ketersediaan infrastruktur jaringan internet dengan bandwidth yang cukup besar dan jangkauan luas (wide coverage). Selanjutnya, ketersediaan data center dengan kapasitas penyimpanan yang cukup banyak, aman dan terjangkau, ketersediaan infrastruktur logistik moderen, dan kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung kebutuhan industri sesuai dengan karakter Industri 4.0.

Dengan berkembangnya kebutuhan di atas, pemerintah membuat beberapa peraturan untuk perlindungan keamanan penggunaan sistem salah satunya adalah UU ITE serta PP No. 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Penggunaan Sistem dan Transaksi Elektronik. Di level internasional, International Organization for Standardization (ISO) dan International Electrotechnical Commission (IEC) mengeluarkan ISO/IEC 27001 sebagai standar keamanan informasi yang diakui oleh dunia. ISO/IEC 27001 merupakan rangkaian standar untuk membantu organisasi menjaga aset informasi tetap aman contohnya aset informasi di bidang keuangan, kekayaan intelektual, detail karyawan atau informasi yang dipercayakan kepada perusahaan oleh pihak ketiga.

ISO/IEC 27001 adalah standar yang menyediakan persyaratan untuk Information Security Management System (ISMS). ISMS merupakan pendekatan sistematis untuk mengelola informasi perusahaan yang sensitif sehingga tetap aman. Informasi perusahaan termasuk orang, proses dan sistem Teknologi Informasi yaitu dengan menerapkan manajemen risiko. Hal ini dapat membantu usaha kecil, menengah dan besar di sektor apa pun untuk menjaga aset informasi tetap aman.

Kesimpulannya Revolusi Industri 4.0 bisa menjadi momentum bagi kita untuk mendorong penerapan standardisasi dan penilaian kesesuaian yang bisa mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi untuk kualitas hidup yang lebih baik dengan keamanan yang sudah diatur standar dunia.

 

 

Source : http://blog.privy.id/news/2-revolusi-industri-4/