Pendahuluan

Pengembangan di bidang industri saat ini sangat pesat dan bukan hanya terjadi pada industri manufaktur saja, tetapi juga pada industri jasa. Sehingga diperlukan adanya proses untuk meningkatkan kepuasan pelanggan yaitu dengan cara mengurangi kegagalan proses melalui metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA).

 FMEA

Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) saat ini digunakan oleh industri otomotif dunia dan juga dipersyaratkan oleh IATF 16949 yang mengacu pada FMEA Manual yang dikeluarkan oleh AIAG (4th Edition–Latest Version).

 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah pendekatan sistematik yang menerapkan suatu metode dalam bentuk tabel untuk membantu proses pemikiran yang digunakan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial dan efeknya.

Terdapat lima tipe FMEA yang bisa diterapkan dalam sebuah industri manufaktur, yaitu:

  • System, berfokus pada fungsi sistem secara global
  • Design, berfokus pada desain produk
  • Process, berfokus pada proses produksi dan perakitan
  • Service, berfokus pada fungsi jasa
  • Software, berfokus pada fungsi software.

Identifikasi Elemen-elemen Proses FMEA terdiri dari: 

  1. Mode Kegagalan, adalah suatu kemungkinan kegagalan terhadap setiap proses.
  2. Efek Potensial dari kegagalan, adalah suatu efek dari bentuk kegagalan yang memengaruhi pelanggan.
  3. Tingkat Keparahan (Severity), adalah penilaian efek dari kegagalan yang terjadi.
  4. Penyebab Potensial (Potential Cause), adalah bagaimana kegagalan bisa terjadi.

Analisa kuantitatif yaitu sebagai berikut:

  1. Tingkat Kejadian (Occurrence-O), adalah sesuatu yang secara spesifik menerangkan rata-rata kegagalan yang akan terjadi.
  2. Tingkat Deteksi (Detection-D), adalah penilaian dari alat tersebut dapat mendeteksi penyebab potensial terjadinya kegagalan.
  3. Tingkat Keparahan (Severity-S), adalah penilaian dari seberapa parah kejadian tersebut.
  4. Nomor Prioritas Risiko (Risk Priority Number-RPN), adalah angka prioritas risiko yang didapatkan dari perkalian Severity, Occurrence dan Detection.

Tindakan yang direkomendasikan (Recommended Action), sesudah peringkat RPN diidentifikasi, maka tindakan perbaikan harus segera ditetapkan dan dilakukan sesuai dengan kategori peringkat RPN, agar mengurangi kegagalan dengan RPN yang tertinggi. Tindakan perbaikan dapat ditentukan berdasarkan skala RPN yang sudah ada. 

Masing-masing analisa kuantitatif sudah memiliki skala. Terkait dengan skala severity, occurrence, detection maupun RPN dapat dilihat dasar untuk tabel skala penilaiannya pada referensi sebagai dasar teori penilaian yaitu sebagai berikut: https://statstuff.com/ssfiles/tools/FMEAScalesGuide.pdf dan https://polarion.plm.automation.siemens.com/hubfs/Docs/Guides_and_Manuals/Siemens-PLM-Polarion-How-to-conduct-a-failure-modes-and-effects-analysis-FMEA-wp-60071-A3.pdf.

Metode FMEA mementingkan risiko yang prioritas sehingga dapat dicari tindakan rekomendasi yang tepat. Tindakan rekomendasi dibuat agar setiap risiko dapat berkurang dan dapat diatasi. Pengambilan keputusan bergantung pada hasil FMEA. Hasil FMEA akan mempengaruhi pengambilan keputusan dari perusahaan. Skala yang dibuat dapat mengikuti jenis perusahaan yang menerapkan FMEA.

Contoh Penerapan FMEA pada PT

Dasar perkalian matriks yang diambil adalah skala 10 x 10 x 10. Contoh yang diberikan adalah skala yang sudah disederhanakan dari skala 10 x 10 x 10 menjadi 5 x 5 x 5 sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Terkait dengan Tabel di atas menunjukkan contoh hasil atau realisasi dari penilaian risiko adalah 4 x 4 x 4 dari kategori penilaian matriks maksimum skala 5 x 5 x 5. Risiko yang diprioritaskan adalah perkalian 32, 64 dan 80 mengikuti jenis perusahaan dan kondisi kegagalan masing-masing departemen. Salah satu kegagalan yang dapat terjadi salah satunya adalah pada PT. X perusahaan printing dan packaging mengenai plotting jadwal induk pada bagian PPC. Masalahnya mengenai hasil subcon banyak yang reject. Dampaknya sangat besar yaitu pengiriman terhambat. Tindakan rekomendasi dalam hal ini yaitu adanya SOP sebagai dasar pengerjaan di subcon karena selama ini tidak ada metode atau acuan untuk mengontrol jalannya subcon. Risiko selanjutnya salah plotting jadwal finishing 1 dan 2, tindakan rekomendasi berupa Update jadwal kirim secara berkala dengan Marketing Planner. Nilai RPN-nya sebesar 80 yang termasuk kategori prioritas dan nilainya besar. Tindakan yang perlu dilakukan jika dilihat sekilas dari nilai RPN yang sudah ada yaitu sebesar 64 dan 80 maka tindakan rekomendasi dapat dijabarkan sekilas sebagai perbaikan untuk perusahaan dalam mengatasi kegagalan tersebut. Tindakan rekomendasi yang ada dimasukkan dalam prosedur agar terkait subcon ataupun jadwal kirim dapat masuk sebagai suatu standard untuk mencegah kegagalan terjadi.

 

 

Referensi:       Jurnal http://publication.petra.ac.id/index.php/teknik-industri/article/view/12/5482

(Mattotoran., et al. / Perancangan Analisa Risiko pada Sistem ISO 9001:2015 di PT.  X / Jurnal Titra, Vol. 5, No. 2, Juli 2017, pp.  181–188)

https://advisera.com/16949academy/blog/2017/09/06/what-is-fmea-and-how-to-apply-it-in-iatf-16949/

https://statstuff.com/ssfiles/tools/FMEAScalesGuide.pdf

https://polarion.plm.automation.siemens.com/hubfs/Docs/Guides_and_Manuals/Siemens-PLM-Polarion-How-to-conduct-a-failure-modes-and-effects-analysis-FMEA-wp-60071-A3.pdf