Implementasi Business Continuity Management System

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jika bisnis Anda mengalami gangguan yang menyebabkan seluruh proses operasional bisnis berhenti? Apa yang harus Anda lakukan? Tentunya Anda mengharapkan proses operasional bisnis Anda tetap berjalan apabila terjadi bencana atau gangguan, yaitu dengan menerapkan Sistem Manajemen Keberlangsungan Bisnis atau Business Continuity Management System (BCMS). Business Continutiy Management System adalah suatu sistem manajemen yang menyediakan langkah-langkah kebijakan, identifikasi risiko, struktur organisasi dan tanggung jawab, mekanisme kerja serta prosedur operasional dalam upaya pemulihan organisasi dan aktivitasnya (business continuity).

Mengapa Anda harus menerapkan Business Continuity?

  1. Untuk pemenuhan persyaratan pihak berkepentingan di organisasi, misalnya pemerintah, pelanggan, dan lain-lain.
  2. Terdapat cukup banyak hal yang tidak dapat dicegah, tetapi yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampak yang dihasilkan.
  3. Kondisi diluar normal tidak dapat dikendalikan sehingga seringkali menyebabkan “sudden and massive lost”. Kondisi diluar normal misalnya banjir, gempa bumi, sabotase, peperangan, kegagalan supply listrik, penyakit menular, dan lain sebagainya.
  4. Kita tidak bisa menjamin kondisi di dalam organisasi selalu ideal.

Beberapa poin di atas menjadi alasan Anda perlu mengimplementasi BCMS di organisasi Anda. Penerapan BCMS dapat mengacu ke standar ISO 22301:2019 tentang Business Continuity Management System. Berikut ini adalah rangkuman singkat tahapan yang harus Anda lakukan saat menerapkan BCMS, antara lain:

  1. Menentukan kebijakan dan penetapan ruang lingkup. Hal yang harus diperhatikan saat menetapkan ruang lingkup yaitu, physical area, proses bisnis, organisasi, dan asset.
  2. Pendefinisian kondisi abnormal. Anda perlu menentukan kondisi abnormal yang mungkin dapat terjadi dari ruang lingkup BCM yang telah ditetapkan.
  3. Melakukan Business Impact Analysis (BIA). BIA adalah proses mengidentifikasi, menganalisa, dan menentukan dampak yang terjadi pada keberlangsungan bisnis proses di organisasi seandainya terjadi gangguan/bencana yang dapat menyebabkan kegiatan operasional bisnis berhenti.
  4. Melakukan identifikasi risk assessment atau penilaian risiko. Identifikasi risk assessment adalah metode untuk menentukan apakah suatu organisasi memiliki risiko yang dapat diterima atau tidak.
  5. Menentukan strategi keberlangsungan bisnis.
  6. Menetapkan business continuity plan (BCP). BCP merupakan rancangan untuk organisasi dalam memulihkan fungsi dari bagian organisasinya yang berdampak akibat adanya gangguan atau bencana sehingga organisasi mampu bertahan dan bereaksi dalam menghadapi bencana yang terjadi.

Nah, hal-hal di atas adalah penjelasan terkait pentingnya penerapan BCMS di dalam organisasi Anda. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut apa itu BCMS dan implementasi di dalam organisasi Anda, Konsultan ISO Bizplus.id dapat membantu Anda untuk melakukan training dan konsultasi terkait penerapan BCMS.

Penulis : RP