Material Recycle Tidak Terlacak? Ini Masalah Besar dalam Implementasi GRS

Di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk yang berkelanjutan, penggunaan material recycle kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan bisnis. Industri tekstil, plastik, packaging, hingga manufaktur mulai berlomba menunjukkan komitmen sustainability melalui penggunaan bahan daur ulang dalam proses produksinya.

Namun, ada satu masalah besar yang masih sering ditemukan di lapangan: material recycle yang digunakan ternyata tidak dapat ditelusuri dengan jelas.

Banyak perusahaan merasa sudah cukup aman karena telah membeli bahan recycle dari supplier. Padahal dalam implementasi Global Recycled Standard (GRS), penggunaan material daur ulang saja tidak cukup. Perusahaan juga harus mampu membuktikan asal-usul, alur perpindahan, hingga pengelolaan material tersebut secara terstruktur dan terdokumentasi.

Jika material recycle tidak dapat dilacak, maka klaim sustainability perusahaan bisa dipertanyakan, bahkan berisiko gagal dalam proses audit sertifikasi GRS.

Mengapa Traceability Sangat Penting dalam GRS?

Dalam implementasi GRS, terdapat konsep utama yang disebut sistem keterlacakan material. Artinya, perusahaan harus mampu menunjukkan bukti lengkap mengenai perjalanan material recycle di seluruh rantai pasok.

Dalam audit GRS, auditor akan memeriksa apakah perusahaan mampu menunjukkan:

  1. Dari mana material recycle berasal
  2. Supplier mana yang menyediakan material tersebut
  3. Berapa jumlah material yang diterima
  4. Bagaimana material diproses di internal perusahaan
  5. Apakah ada pencampuran dengan material virgin
  6. Berapa jumlah output yang dihasilkan
  7. Ke mana produk dikirim

Semua data tersebut harus konsisten dan dapat diverifikasi melalui dokumen pendukung seperti invoice, delivery note, purchase order, production record, stock card, hingga mass balance calculation.

Banyak perusahaan gagal dalam sertifikasi GRS bukan karena tidak menggunakan material recycle, melainkan karena sistem pelacakan materialnya tidak berjalan dengan baik.

Fenomena yang Masih Sering Terjadi di Lapangan

Dalam praktik implementasi GRS, masih banyak perusahaan yang mengelola material recycle secara manual dan belum terintegrasi antar departemen. Akibatnya, proses pelacakan material menjadi tidak efektif dan rawan menimbulkan ketidaksesuaian saat audit.

Beberapa kondisi yang sering ditemukan antara lain:

  1. Material recycle dicampur dengan material non-recycle tanpa identifikasi jelas
  2. Tidak ada kode atau label khusus pada bahan baku recycle
  3. Data stok antara gudang dan produksi tidak sinkron
  4. Supplier belum memiliki sertifikasi GRS
  5. Dokumen pembelian tidak lengkap
  6. Perusahaan tidak memiliki sistem mass balance
  7. Klaim recycled content tidak dapat dibuktikan

Penyebab Umum Material Tidak Terlacak dalam Implementasi GRS

Ada beberapa akar masalah yang menyebabkan traceability material recycle gagal diterapkan secara efektif:

1. Sistem Dokumentasi yang Lemah: Banyak perusahaan masih mengandalkan pencatatan manual atau file terpisah antar departemen sehingga data sulit ditelusuri secara cepat dan akurat.

2. Kurangnya Pemahaman Tim Internal: Tim produksi, warehouse, procurement, dan QA/QC sering kali belum memahami pentingnya keterlacakan dalam implementasi GRS.

3. Supplier Belum Tersertifikasi: Material recycle yang dibeli dari supplier non-GRS sering menjadi kendala karena tidak memiliki bukti chain of custody yang valid.

4. Tidak Ada Pemisahan Material: Material recycle dan non-recycle disimpan bersamaan tanpa identifikasi yang jelas sehingga berisiko tertukar.

5. Tidak Dilakukan Rekonsiliasi Mass Balance: Perusahaan tidak menghitung kesesuaian antara input, proses, waste, dan output material recycle.

Karena itu, implementasi GRS membutuhkan sistem yang terstruktur, mulai dari identifikasi material, pengendalian dokumen supplier, monitoring stock movement, hingga pengelolaan mass balance. Dengan sistem traceability yang kuat, perusahaan tidak hanya lebih siap menghadapi audit, tetapi juga lebih dipercaya dalam supply chain global.

Sebagai perusahaan konsultan sistem manajemen, Bizplus.id siap membantu perusahaan dalam implementasi GRS, mulai dari gap assessment, penyusunan sistem traceability, pelatihan internal, hingga pendampingan audit sertifikasi agar perusahaan lebih siap memenuhi tuntutan pasar internasional.

Penulis: RA